Titik-titik hujan.
Menggelayut di antara tangkai-tangkai hati.
Menggelayut di antara tangkai-tangkai hati.
Perlahan, jatuh diatas pucuk-pucuk asa.
Yang kuncup memendam putik-putik setia.
Dan benang-benang nestapa.
Dalam kelopak-kelopak kerinduan.
Ada yang tak biasa dengan rintik ini.
Tak sedikit pun tampak olehku mendung yang membingkai, atau pelangi yang memudar sepi.
Kecuali senyuman angin pada sepasang awan yang beranjak pergi.
Mungkin ku cuma berfirasat. Atau ini sebuah hasrat?
Entahlah, aku seolah tak peduli pada rintik ini.
Rintik yang mungkin nanti kan menusukku dengan sejuta duri.
Ku hanya ingin melukis segoreng cinta di tiap ufuk hatinya.
Yang kuncup memendam putik-putik setia.
Dan benang-benang nestapa.
Dalam kelopak-kelopak kerinduan.
Ada yang tak biasa dengan rintik ini.
Tak sedikit pun tampak olehku mendung yang membingkai, atau pelangi yang memudar sepi.
Kecuali senyuman angin pada sepasang awan yang beranjak pergi.
Mungkin ku cuma berfirasat. Atau ini sebuah hasrat?
Entahlah, aku seolah tak peduli pada rintik ini.
Rintik yang mungkin nanti kan menusukku dengan sejuta duri.
Ku hanya ingin melukis segoreng cinta di tiap ufuk hatinya.
Agar selaksa bahagia. Mekar bersama senyuman sang mentari.
Di penghujung fajar nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar