Sabtu, 10 Maret 2012

CERPEN PERTAMA


“Kotak Makan Siang Untuk Dia”

Pagi ini aku terbangun. Aku bangunkan diri dengan niat yang telah ku buat, meskipun ragaku belum sepenuhnya terbangun dari alam mimpiku. Ku kuatkan mata ini agar dapat melihat jam yang terpasang di dinding kamarku, “Oh Tuhan, sempatkah aku untuk membuatkan makan siang untuknya?”. Aku segera bangkit dari tempat tidurku, ku langkahkan kaki ini ke sebuah ruang yang setiap hari ku temui ibu membuat sarapan pagi untuk keluarganya, tapi kali ini berbeda dengan sebelumnya! Aku lebih awal masuk ke ruang itu dibanding ibu. Perlahan ku buka lemari es, ku pandangi sayur mayur yang mudah ku masak, ku lihat kentang, dan ku iris perlahan. Ku buka catatan kecil dan ku ikuti cara-cara memasaknya, lalu aku terdiam, kupertanyakan tentang 1 hal, untuk siapa aku kerjakan ini? Ku temukan jawaban lewat hati yang memberi degupan.  'Untuk Dia' ! lalu sebuah kasih membiarkan aku melakukan hal yang tak pernah jadi kegemaranku. Ku masak dengan senang, ku buat dengan kasih, ku masukan masakan itu kesebuah kotak. Ku masukan dan ku titipkan perasaan kepadanya, lalu berharap waktu cepat menuju padanya!
Syukurlah akhirnya selesai juga makan siang untuknya, lalu aku bergegas menuju ruang keluarga bermaksud untuk beristirahat sebentar dan tak lupa ku bawa kotak makan yang telah kubuat tadi ke ruangan itu. Ku taruh kotak makan itu di meja dan ku jatuhkan tubuh ini ke sofa yang begitu menggodaku untuk kembali ke alam mimpiku, “Oh Tuhan, semoga dia suka dengan makanan yang ku buat ini dan tak disangka aku senyum-senyum sendiri membayangkan hal ini”. Tiba-tiba sosok yang sangat ku kenal itu sedari tadi memperhatikan tingkah anehku di pagi ini, yah ibu datang dan mengejutkan aku yang sedari tadi tak hentinya tersenyum sendiri, “Hayo kamu kenapa senyum-senyum sendirian, Nak?” ujar ibu. “Oh Tuhan, aku harus jawab apa?” kataku dalam hati yang sedari tadi bingung memikirkan jawaban apa yang akan ku katakan kepada ibuku, ibu mulai penasaran dengan jawabanku. Ibu pun kembali membuka percakapan “Nak, ayo ceritakan kepada ibu? Tumben sekali kamu sudah bangun, sudah masak juga lagi? yang membuat ibu penasaran ada apa kamu senyum-senyum sendirian?” begitulah pertanyaan yang ibu berikan kepadaku. Aku pun segera menjawab pertanyaan yang sedari tadi membuat ibu menjadi penasaran akan tingkah laku aneh yang ku lakukan pagi ini, “hem iyah bu, jadi aku bangun pagi ingin menyiapkan makan siang untuk ku bawa ke sekolah nanti dan soal mengapa aku senyum-senyum sendiri karena aku senang sekali bisa menyiapkan bekal makan siangku ini tanpa merepotkan ibu”, begitulah jawaban yang ku berikan kepada ibu, menjelaskan sekenanya saja hahaha setidaknya aku sudah memberikan jawaban kepada ibu. Aku tertawa dalam hati sambil berkata “Semoga saja ibu tidak bertanya lagi tentang hal ini, sungguh aku malu sekali”. Aku kira ibu akan mengakhiri percakapan yang membuat wajahku merah merona bak kepiting rebus, ternyata ibu malah tetap membuka suara dan meledekku “Aah kamu tidah usah bohong sayang, tidak biasanya kamu bangun sepagi ini. Ayo jujur, kamu sedang jatuh cinta yah ? makanya merelakan rasa kantukmu untuk membuatkan makan siang untuk kekasihmu”. Ibu berkata seperti itu kepadaku sambil mengelus-elus rambutku kemudian mengecup keningku dan mengembangkan senyuman yang sangat indah untukku, “Oh Tuhan mengapa ibu tahu apa yang aku rasakan? Apa ini yang dinamakan naluri seorang ibu” desahku dalam hati. Aku kembali menjawab pertanyaan ibuku “Aah ibu bisa saja deh, aku kan jadi malu”. Begitulah jawaban yang tak sengaja terlontar dari mulutku, oops ya ampun kenapa aku bisa keceplosan begini? Semoga ibu tidak sadar dengan jawabanku tadi “desahku dalam hati sambil tersenyum kembali membayangkan percakapan pagi ini bersama ibunya”. Setelah mengakhiri percakapan dengan ibu, aku bergegas menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. 
Di sekolah tak sabar menunggu jeritan bel, tak ada hentinya mata ini memandangi arloji yang berada di pergelangan tangan kananku. “Oh Tuhan, waktu berjalan sangat lamban sekali, aku mohon bunyikan bel itu sekarang juga”. “kataku dalam hati”. Tepatlah inginku, berteriaklah bel mengantarkan perut-perut lapar pada tempat pengisian. Ku duduk manis di kelas sambil memandangi ke arah pintu kelasku, berharap seseorang yang ku harapkan sejak tadi pagi datang menemui pesan dikotak makan ini. Hati ini mulai resah memikirkannya, aku mencoba menenangkan diri sejenak, membangunkan raga ini dan beranjak dari kursiku untuk menunggunya di depan pintu kelasku. Mata ini terus menyapu setiap lorong demi lorong kelas, tapi orang yang ku cari tak dapat ku temukan. 15 menit sudah berlalu, wajah yang ku mau masih tak tampak juga. Ku tunggu dia lagi, ku siapkan sebuah kotak makan yang berisikan ketulusan. 30 menit pun sudah berlalu, dia tetap tak menemui pesan dikotak makan yang telah ku buat dengan rasa kasih yang begitu tulus untuknya.
Semangat ini pun luruh perlahan. Tiap menitnya buat senangku jadi gundah dan tak mampu menelan ludah. Jerit bel kembali terdengar, berisyarat perut-perut kenyang harus kembali dengan kewajiban. Dia tak datang. Pesan dikotak ini semakin tak dapat terbaca, dia tak datang. Dia tak ingin menerima isyarat isi dari sebuah kotak. Entah bagaimana harus aku gambarkan tentang hati ini, yang ku tahu mata tak mampu menahan kebodohan. Mata ini mengalirkan butiran air tanpa noda, namun beningnya tak menggambarkan bagaimana hati terluka. Dia tak datang. Dia tak memilih datang menemuiku! Dia mengacuhkan aku. Dan ku buang kotak bersama isyaratnya, karena dia tak menginginkannya dan dia tak menginginkan sang pemiliknya.

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar