“Kotak Makan Siang Untuk Dia”
Pagi ini aku
terbangun. Aku bangunkan diri dengan niat yang telah ku buat, meskipun ragaku
belum sepenuhnya terbangun dari alam mimpiku. Ku kuatkan mata ini agar dapat
melihat jam yang terpasang di dinding kamarku, “Oh Tuhan, sempatkah aku untuk
membuatkan makan siang untuknya?”. Aku segera bangkit dari tempat tidurku, ku langkahkan
kaki ini ke sebuah ruang yang setiap hari ku temui ibu membuat sarapan pagi
untuk keluarganya, tapi kali ini berbeda dengan sebelumnya! Aku lebih awal
masuk ke ruang itu dibanding ibu. Perlahan ku buka lemari es, ku pandangi sayur
mayur yang mudah ku masak, ku lihat kentang, dan ku iris perlahan. Ku buka
catatan kecil dan ku ikuti cara-cara memasaknya, lalu aku terdiam,
kupertanyakan tentang 1 hal, untuk siapa aku kerjakan ini? Ku temukan jawaban
lewat hati yang memberi degupan. 'Untuk
Dia' ! lalu sebuah kasih membiarkan aku melakukan hal yang tak pernah jadi
kegemaranku. Ku masak dengan senang, ku buat dengan kasih, ku masukan masakan
itu kesebuah kotak. Ku masukan dan ku titipkan perasaan kepadanya, lalu
berharap waktu cepat menuju padanya!
Syukurlah
akhirnya selesai juga makan siang untuknya, lalu aku bergegas menuju ruang
keluarga bermaksud untuk beristirahat sebentar dan tak lupa ku bawa kotak makan
yang telah kubuat tadi ke ruangan itu. Ku taruh kotak makan itu di meja dan ku
jatuhkan tubuh ini ke sofa yang begitu menggodaku untuk kembali ke alam
mimpiku, “Oh Tuhan, semoga dia suka dengan makanan yang ku buat ini dan tak
disangka aku senyum-senyum sendiri membayangkan hal ini”. Tiba-tiba sosok yang
sangat ku kenal itu sedari tadi memperhatikan tingkah anehku di pagi ini, yah ibu
datang dan mengejutkan aku yang sedari tadi tak hentinya tersenyum sendiri,
“Hayo kamu kenapa senyum-senyum sendirian, Nak?” ujar ibu. “Oh Tuhan, aku
harus jawab apa?” kataku dalam hati yang sedari tadi bingung memikirkan jawaban
apa yang akan ku katakan kepada ibuku, ibu mulai penasaran dengan jawabanku.
Ibu pun kembali membuka percakapan “Nak, ayo ceritakan kepada ibu? Tumben
sekali kamu sudah bangun, sudah masak juga lagi? yang membuat ibu penasaran ada
apa kamu senyum-senyum sendirian?” begitulah pertanyaan yang ibu berikan
kepadaku. Aku pun segera menjawab pertanyaan yang sedari tadi membuat ibu
menjadi penasaran akan tingkah laku aneh yang ku lakukan pagi ini, “hem iyah
bu, jadi aku bangun pagi ingin menyiapkan makan siang untuk ku bawa ke sekolah
nanti dan soal mengapa aku senyum-senyum sendiri karena aku senang sekali bisa
menyiapkan bekal makan siangku ini tanpa merepotkan ibu”, begitulah jawaban
yang ku berikan kepada ibu, menjelaskan sekenanya saja hahaha setidaknya aku
sudah memberikan jawaban kepada ibu. Aku tertawa dalam hati sambil berkata
“Semoga saja ibu tidak bertanya lagi tentang hal ini, sungguh aku malu sekali”.
Aku kira ibu akan mengakhiri percakapan yang membuat wajahku merah merona bak
kepiting rebus, ternyata ibu malah tetap membuka suara dan meledekku “Aah kamu
tidah usah bohong sayang, tidak biasanya kamu bangun sepagi ini. Ayo jujur, kamu sedang jatuh cinta yah ? makanya merelakan rasa kantukmu untuk membuatkan
makan siang untuk kekasihmu”. Ibu berkata seperti itu kepadaku sambil
mengelus-elus rambutku kemudian mengecup keningku dan mengembangkan senyuman
yang sangat indah untukku, “Oh Tuhan mengapa ibu tahu apa yang aku rasakan? Apa
ini yang dinamakan naluri seorang ibu” desahku dalam hati. Aku kembali menjawab
pertanyaan ibuku “Aah ibu bisa saja deh, aku kan jadi malu”. Begitulah jawaban
yang tak sengaja terlontar dari mulutku, oops ya ampun kenapa aku bisa
keceplosan begini? Semoga ibu tidak sadar dengan jawabanku tadi “desahku dalam
hati sambil tersenyum kembali membayangkan percakapan pagi ini bersama ibunya”.
Setelah mengakhiri percakapan dengan ibu, aku bergegas menuju kamar mandi dan
bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Di sekolah tak
sabar menunggu jeritan bel, tak ada hentinya mata ini memandangi arloji yang
berada di pergelangan tangan kananku. “Oh Tuhan, waktu berjalan sangat lamban
sekali, aku mohon bunyikan bel itu sekarang juga”. “kataku dalam hati”. Tepatlah
inginku, berteriaklah bel mengantarkan perut-perut lapar pada tempat pengisian.
Ku duduk manis di kelas sambil memandangi ke arah pintu kelasku, berharap seseorang
yang ku harapkan sejak tadi pagi datang menemui pesan dikotak makan ini. Hati
ini mulai resah memikirkannya, aku mencoba menenangkan diri sejenak, membangunkan
raga ini dan beranjak dari kursiku untuk menunggunya di depan pintu kelasku. Mata
ini terus menyapu setiap lorong demi lorong kelas, tapi orang yang ku cari tak
dapat ku temukan. 15 menit sudah berlalu, wajah yang ku mau masih tak tampak
juga. Ku tunggu dia lagi, ku siapkan sebuah kotak makan yang berisikan
ketulusan. 30 menit pun sudah berlalu, dia tetap tak menemui pesan dikotak
makan yang telah ku buat dengan rasa kasih yang begitu tulus untuknya.
Semangat ini
pun luruh perlahan. Tiap menitnya buat senangku jadi gundah dan tak mampu
menelan ludah. Jerit bel kembali terdengar, berisyarat perut-perut kenyang
harus kembali dengan kewajiban. Dia tak datang. Pesan dikotak ini semakin tak
dapat terbaca, dia tak datang. Dia tak ingin menerima isyarat isi dari sebuah
kotak. Entah bagaimana harus aku gambarkan tentang hati ini, yang ku tahu mata
tak mampu menahan kebodohan. Mata ini mengalirkan butiran air tanpa noda, namun
beningnya tak menggambarkan bagaimana hati terluka. Dia tak datang. Dia tak
memilih datang menemuiku! Dia mengacuhkan aku. Dan ku buang kotak bersama
isyaratnya, karena dia tak menginginkannya dan dia tak menginginkan sang
pemiliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar