Kiamat
Kecil Transjakarta
Katanya, kiamat akan terjadi pada 2012. Itu yang dilihat
dari film dan ramalan. Ternyata tidak, kiamat itu akan datang pada 2014.
Sutiyoso yang meramal. Bahkan, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), meyakininya
lebih cepat, 2011. Tapi ini soal kiamat yang akan menimpa sistem transportasi
Ibukota, termasuk Bus Transjakarta. Seorang lelaki turun dari Bus Transjakarta
di Halte Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Wajahnya merah padam, berkeringat.
Padahal, Senin itu masih pagi, pukul tujuh yang dingin sebab hujan tak jua reda
sejak semalam. Tangan kirinya menenteng tas kulit berwarna coklat, sementara
tangan kanannya sibuk merapikan kemeja putihnya yang lecek dan mengelap
keningnya dengan sapu tangan biru dongker. Sutrisno, nama lelaki paruh baya
itu. Pagi itu, ia merasa sial. Penderitaannya serasa lengkap sudah lantaran BMW
hitamnya masuk bengkel. Ditambah, hujan lebat mengguyur jalanan hingga banjir
selutut, jalanan macet, berdesakan pula di dalam bus, bikin dia tak nyaman. ”Huuh,
kapok deh naik Transjakarta,” lelaki ini mengeluh sambil pergi berlalu menjauhi
halte. Kalau sudah begini, angkutan umum seperti Bus Transjakarta menjadi
pilihan terakhir ayah dua putri ini. Saban pagi, ia mesti melintasi rute Jalan
Dewi Sartika-Otista-Salemba untuk menuju kantornya di Indosat. Meluncur pukul
setengah enam pagi dari kediamannya di bilangan Kampung Tengah, Jakarta Timur.
Biasanya, Sutrisno ngantor dengan sedan pabrikan Jerman itu. Ia mengaku lebih
nyaman menggunakan kendaraan pribadi ketimbang berdesakan naik angkutan publik.
Menurutnya, “Transjakarta itu lama. Tidak nyaman dan terlalu padat pada jam
sibuk,” ujarnya. Masih dengan nada jengkel. Andai saja transportasi publik
macam Transjakarta kondisinya layak, Sutrisno mengaku mau beralih dari kendaraan pribadinya.
“Asalkan tepat waktu, ketersediaan armada mencukupi, kenyamanan dan keamanan
bisa dijaga,” kata Direktur IT ini sambil menyorongkan tiga jarinya. Mungkin
tak hanya Sutrisno, mungkin juga sebagian besar warga Jakarta. Namun sayang,
kenyataannya tak seindah harapan kebanyakan orang. Untuk saat ini, ia menilai
Transjakarta terlihat semakin buruk saja. “Di halte, AC-nya sudah nggak nyala,
pintu sudah nggak bisa tertutup, jalannya bolong-bolong,” nilai merah darinya. Dengan
kondisi seperti ini, ia menilai kalau pemerintah daerah DKI Jakarta tak serius
dalam menangani masalah transportasi. “Kayak hidup enggan mati tak mau,” ia
berpepatah.
Bukan Jakarta namanya, kalau tak macet saban hari. Tidak
hanya di ruas jalan protokol seperti Jalan M.H Thamrin atau Jalan Sudirman,
kini kemacetan mulai merata hampir di semua sudut ibukota Indonesia ini.
Apalagi saat musim penghujan tiba. Jadilah Jakarta sebagai kota yang sistem
transportasinya terasa mengerikan. Dulu, saat Sutiyoso masih menjabat sebagai
Gubernur DKI Jakarat, ia sempat membuat ramalan. Bahwa kemacetan akan menyergap
warga Jakarta saat keluar rumah pada 2014 nanti. Asumsinya sederhana.
Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta, tak sebanding dengan jumlah
ruas jalan yang tak jua bertambah. Meski sudah ada Bus Transjakarta yang punya
jalur spesial, tetap saja busway kerap dicaplok kendaraan lain. Tetap saja
Transjakarta kena macet. Namun, ’kiamat’ mobilitas itu tampaknya akan datang
lebih cepat dari yang diperkirakan. Ririn Sefsani, seorang aktifis dari Wahana
Lingkungan Hidup (WALHI) yang menyatakan demikian. ”Mungkin saja terjadi pada
2011, saya punya datanya dan sudah pernah saya sampaikan,” ujar Ririn.
Dari data yang diberikan Ririn kepada saya menunjukkan,
luas jalan sebesar 40 juta meter persegi, tak bertambah secara signifikan sejak
2007 hingga kini. Sementara jumlah kendaraan bermotor bertambah rata-rata 500
ribu per tahun dan pada 2011. Jumlah kendaraan diprediksi lebih dari 5,9 juta
unit dengan luas kendaraan di jalan 40,1 juta meter persegi. Itu artinya, luas
kendaraan sama dengan luas jalan yang tersedia. Sehingga, kemacetan total pun
bisa diprediksi menyergap lebih cepat dari bayangan sebelumnya. Menurutnya,
kemacetan semakin ruwet tak terkendali juga disebabkan buruknya transportasi
publik yang tak mengalami perbaikan secara signifikan. ”Transportasi publik
yang tak mengalami perbaikan, baik dari sisi penyediaan maupun fasilitasnya,”
kata Ririn iba. Sebetulnya, Ririn mengakui, untuk mengurangi kemacetan di
ibukota, transportasi publik bisa menjadi jawaban. Seperti bus Transjakarta
yang sudah beroperasi sejak 2004 lalu, atau kereta listrik (KRL). Sayangnya,
Ririn masih menilai sama dengan Sutrisno; pemerintah tak serius dalam mengatasi
kemacetan. Khusus Jakarta, Ririn menilai bahwa pemerintah daerah masih sangat
bergantung pada pendapatan pajak kendaraan bermotor. Alasan lainnya, juga
disebabkan industri mobil yang memiliki kepentingan terhadap penjualannya
sehingga pemerintah mengabaikan pelayanan transportasi publik yang memadai. Bagi
Ririn, komitmen saja tidak cukup karena pemerintah berorientasi pada
pendapatan, sementara ”industri mobil itu, bagaimana menjual mobil sebanyak
mungkin,” kata Ririn sambil terkekeh. Memang, Ririn mengakui pendapatan
pemerintah dari sektor pajak kendaraan juga penting dalam kontribusi
pembangunan. Tapi, kalau itu menjadi prioritas pemerintah lalu mengabaikan
pelayanan transportasi yang memadai bagi masyarakat, jadilah persoalan. Ririn
berharap, Transjakarta bisa digarap dengan manajemen yang baik, termasuk pola
kepemilikian armada bus dengan mengikutsertakan para pengusaha angkutan umum. ”Pemiliknya
tidak hanya pemerintah tapi juga swasta dengan membangun aspek transparansi dan
akuntabilitas yang baik.”
Cara kedua dengan melibatkan masyarakat dalam proses
pengadaan dan model transportasi. Sehingga masyarakat nyaman menggunakannya dan
rela beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Keterlibatan
masyarakat yang dimaksud Ririn, bahwa masyarakat dapat menggunakan Transjakarta
senyaman mungkin, akses halte mudah, fasilitas yang baik, juga keramahan para
penyelenggaranya. ”Dan, ketepatan waktu serta ketersediaan di titik-titik,
dimana masyarakat beraktivitas. Itu juga juga menjadi hal penting,” kata Ririn
mengingatkan. Di samping itu, transportasi publik seperti Transjakarta tidak
akan berhasil manakala pemerintah belum mampu mengendalikan penggunaan
kendaraan pribadi. Atas kesemrawutan transportasi ini, Ririn memberi rapot
merah bagi pemerintah. ”Ini persoalan puluhan tahun. Nilainya 2,5 deh,” Ujar
Ririn. Terang saja, kalau persoalan ini tetap tak terselesaikan, masyarakat,
khususnya di DKI Jakarta, akan merasakan ’kiamat kecil’ sistem transportasi di
ibukota. Termasuk Transjakarta, di mana ruas busway selalu dicaplok pengendara
lain. Itu artinya, sama dengan rumus, jumlah kendaraan bermotor, ditambah
dengan jumlah ruas jalan, sama dengan macet total. Kita tunggu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar