Sabtu, 24 Maret 2012

UNJ


Universitas Negeri Jakarta
Logo-unj.png
Didirikan 16 Mei 1964
Jenis Perguruan Tinggi Negeri
Rektor BEDJO SUJANTO, Dr
Lokasi Jl.Rawamangun Muka, Pulogadung, Jakarta Timur
Telepon +62-21-722276[1]
Situs web http://www.unj.ac.id
Universitas Negeri Jakarta adalah perguruan tinggi negeri yang terdapat di kota Jakarta,Indonesia. Berdiri pada tahun 1964,

Sejarah

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia merasakan kurangnya tenaga kependidikan di semua jenjang dan jenis lembaga pendidikan. Untuk meng­atasi masalah ini pemerintah mendirikan berbagai kursus pendidikan guru. Sekitar tahun 1950-an, pada jenjang di atas pendidikan menengah didirikan

Rektorat

 Masa Universitas Indonesia

  1. Prof.R. Sugarda Poerbakawatja Dekan FKIP Universitas Indonesia 1961 - 1963
  2. Prof. Dr. Slamet Imam Santoso Dekan FKIP Universitas Indonesia 1963 - 1964

Daftar Rektor Masa IKIP Jakarta

  1. Brigjen A. Latif Hendraningrat Rektor IKIP Jakarta 1964 - 1965
  2. Dra. Maftuchah Yusuf Ketua Presidium IKIP Jakarta 1966 - 1967
  3. Dr. Deliar Noer Rektor IKIP Jakarta 1.) 1967-1971 2.) 1971-1975 (2 Periode)
  4. Dr. Siswojo Hardjodipuro Pjs. Rektor IKIP Jakarta 1975
  5. Prof. Dr. Winarno Surachmad, M.Sc.,M.Ed Rektor IKIP Jakarta 1975-1980
  6. Prof. Dr. R. Soedjiran Reksosoe-darmo, M.A Rektor IKIP Jakarta 1980 - 1984
  7. Prof. Dr. Conny R. Semiawan Rektor IKIP Jakarta 1) 1984-1988 2) 1988-1992
  8. Dr. A. Suhaenah Suparno Rektor IKIP Jakarta 1992 - 1996
  9. Dr. Sutjipto Rektor IKIP Jakarta 1997 - 1999

Masa Universitas Negeri Jakarta

  1. Prof. Dr. Sutjipto Rektor Universitas Negeri Jakarta 1) 1999 - 2001 2) 2001-2005
  2. Dr. Bedjo Sujanto, M.Pd. Rektor Universitas Negeri Jakarta 1) 2005 - 2009 2) 2009 - ...

Bidang Pendidikan

Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan 2 (dua) bidang pendidikan, yaitu Bidang Kependidikan dan Bidang Non-Kependidikan.

Bidang Kependidikan

Bidang Kependidikan diselenggarakan di semua program studi yang ada di UNJ sebagai kelanjutan pembinaan dari bidang sebelumnya (IKIP Jakarta). Sesuai dengan visi dan misi UNJ, program Bidang Kependidikan ini akan tetap dikembangkan secara optimal.

Bidang Non-Kependidikan

Setelah IKIP Jakarta diperluas mandatnya menjadi Universitas, UNJ menyelenggarakan Program Bidang Non-Kependidikan dengan jenis program D-III dan jenjang program S1. Program Non-Kependidikan yang sudah ada akan terus dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya, sedangkan program studi lainnya akan dibuka secara bertahap.

Jenis Pendidikan

UNJ menyelenggarakan 2 (dua) jenis pendidikan, yaitu Pendidikan Akademik, Pendidikan Profesional.

Pendidikan Akademik

Program Pendidikan Akademik terdiri dari 3 jenjang yaitu Program Sarjana (S1), Program Magister (S2) dan Program Doktor (S3).

Program Sarjana (S1)

Universitas Negeri Jakarta menyelenggarakan 2 (dua) jenis Program Sarjana, yaitu Program Sarjana Kependidikan dan Program Sarjana Non-Kependidikan.
  • Program Sarjana Kependidikan. Beban studi program ini sekurang-kurangnya 144 SKS dan sebanyak-banyaknya 160 SKS yang dijadwalkan untuk 8 (delapan) semester dan selama-lamanya 14 (empat belas) semester. Mahasiswa yang berhasil menyelesaikan program ini diberi gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
  • Program Sarjana Non-Kependidikan. Beban studi program ini sekurang-kurangnya 144 SKS dan sebanyak-banyaknya 160 SKS yang dijadwalkan untuk 8 (delapan) semester dan selama-lamanya 14 (empat belas) semester. Mahasiswa yang berhasil menyelesaikan program ini diberi gelar Sarjana Sains (S.Si) untuk lulusan dari FMIPA, Sarjana Olah Raga (S.Or) untuk lulusan dari FIK, Sarjana Sastra (S.S.) atau Sarjana Seni (S.Sen) untuk lulusan dari FBS.

Program Magister Pendidikan (S2)

Beban studi program ini sekurang-kurangnya 36 (tiga puluh enam) SKS dan sebanyak-banyaknya 50 (lima puluh) SKS yang dijadwalkan untuk 4 (empat) semester dan selama-lamanya 10 (sepuluh) semester termasuk penyusunan tesis, setelah Program Sarjana (S1) atau yang sederajat. Mahasiswa yang berhasil menyelesaikan program ini diberi gelar Magister Pendidikan (M.Pd.).

Program Doktor Pendidikan (S3)

Beban Studi, Lama Studi dan Gelar program ini adalah :
  • Beban studi program doktor bagi peserta yang berpendidikan Sarjana (S1) sebidang sekurang-kurangnya 76 (tujuh puluh enam) SKS yang dijadwalkan untuk sekurang-kurangnya 8 (delapan) semester dengan lama studi selama-lamanya 12 (dua belas) semester.
  • Beban studi program doktor bagi peserta yang berpendidikan Sarjana (S1) tidak sebidang sekurang-kurangnya 88 (delapan puluh delapan) SKS yang dijadwalkan untuk 9 (sembilan) semester dengan lama studi selama-lamanya 13 (tiga belas) semester.
  • Beban studi program doktor bagi peserta yang berpendidikan Magister (S2) sebidang sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) SKS yang dijadwalkan untuk 4 (empat) semester dengan lama studi selama-lamanya 10 (sepuluh) semester.
  • Beban studi program doktor bagi peserta yang berpendidikan Magister (S2) tidak sebidang sekurang-kurangnya 52 (lima puluh dua) SKS yang dijadwalkan untuk 5 (lima) semester dengan lama studi selama-lamanya 11 (sebelas) semester.

Program Profesional

UNJ memiliki dua jenis program Profesional yaitu Program Diploma dan Program Akta Mengajar.

Program Diploma

UNJ menyelenggarakan Program Diploma-II (D-II), dan Program Diploma-III (D-III) baik Program Diploma Pendidikan maupun Non-Pendidikan.

Program Akta Mengajar

Program Akta Mengajar atau Program Pembentukan Kemampuan Mengajar (PPKM) bertujuan untuk membekali kompetensi mengajar yang profesional. Kompetensi mengajar yang dimaksud adalah kemampuan penguasaan materi bidang studi dan memadukannya dengan metodologi pembelajaran yang tepat baik secara teoretik maupun praktik untuk diimplementasikan dalam proses pembelajaran.

Jurusan Di Universitas Negeri Jakarta

Fakultas Ilmu Pendidikan

  1. Manajemen Pendidikan
  2. Teknologi Pendidikan
  3. Psikologi
  4. Bimbingan dan Konseling
  5. Pendidikan Luar Biasa
  6. Pendidikan Luar Sekolah
  7. Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)
  8. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD)

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

  1. Pendidikan Matematika (S.Pd)
  2. Pendidikan Fisika (S.Pd)
  3. Pendidikan Kimia (S.Pd)
  4. Pendidikan Biologi (S.Pd)
  5. Matematika (S.Si)
  6. Fisika (S.Si)
  7. Kimia (S.Si)
  8. Biologi (S.Si)

Fakultas Teknik

  1. Pendidikan Teknik Elektro
  2. Pendidikan Teknik Elektronika
  3. Pendidikan Teknik Mesin
  4. Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer
  5. Pendidikan Teknik Bangunan
  6. Pendidikan Tata Boga
  7. Pendidikan Tata Busana
  8. Pendidikan Tata Rias
  9. Teknik Elektro
  10. Teknik Mesin
  11. Teknik Sipil
  12. Ilmu Kesejahteraan Keluarga

Fakultas Ilmu Sosial

  1. Ilmu Agama Islam
  2. Pendidikan Geografi
  3. Pendidikan Sosiologi
  4. Pendidikan Sejarah
  5. Sosiologi

Fakultas Bahasa dan Seni

  1. Bahasa dan Sastra Jerman
  2. Bahasa dan Sastra Indonesia
  3. Bahasa dan Sastra Inggris
  4. Bahasa dan Sastra Perancis
  5. Bahasa dan Sastra Arab
  6. Bahasa Jepang
  7. Seni Musik
  8. Seni Rupa
  9. Seni Tari

Fakultas Ilmu Keolahragaan

  1. Sosiokinetika

Fakultas Ekonomi

  1. Akuntansi
  2. Manajemen
  3. Ekonomi dan Administrasi

Program Pascasarjana

  1. Program Magister (S2)
    (1)Teknologi Pendidikan; (2)Pendidikan Olah Raga; (3)Pendidikan Bahasa; (4)Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup; (5)Manajemen Lingkungan, sebagai konsentrasi dari Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup; (6)Pendidikan Anak Usia Dini; (7)Manajemen Pendidikan; (8)Manajemen Pendidikan Tinggi, sebagai konsentrasi dari Manajemen Pendidikan; (9)Penelitian dan Evaluasi Pendidikan; (10)Manajemen Olah Raga, sebagai konsentrasi dari Pendidikan Olah Raga; (11)Pendidikan Dasar; (12)Pendidikan Sejarah, dan (13)Linguistik Terapan.
  2. Program Doktoral (S3)
    (1)Teknologi Pendidikan; (2)Teknologi Pendidikan, konsentrasi Pendidikan Anak Usia Dini; (3)Pendidikan Olah Raga; (4)Pendidikan Bahasa; (5)Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup; (6)Manajemen Pendidikan; (7)Penelitian dan Evaluasi Pendidikan; (8)Manajemen Lingkungan, sebagai konsentrasi dari Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup. (9)Manajemen Sumber Daya Manusia, sebagai konsentrasi dari Manajemen Pendidikan;

Jalur Program

Dalam penyelesaian studinya mahasiswa dapat memilih jalur skripsi, jalur karya inovatif atau jalur pemahaman komprehensif. Penetapan jalur penyelesaian studi dilakukan setelah mahasiswa memperoleh minimal 100 SKS dengan komposisi mata kuliah yang sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Jurusan/Program Studi masing-masing . Beban kredit semester untuk ketiga jalur adalah minimal 144 SKS.

Jalur Skripsi

Jalur skripsi diperuntukkan bagi mahasiswa yang memiliki Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 2,50.

Jalur Karya Inovatif

Jalur karya inovatif diperuntukkan bagi mahasiswa yang memiliki IPK 2,50. Rambu-rambu penyelesaian studi jalur karya inovatif disesuaikan dengan kaidah keilmuan masing-masing jurusan/program studi.

Jalur Pemahaman Komprehensif

Jalur pemahaman komprehensif diperuntukkan bagi mahasiswa yang memilih jalur ini.

Kegiatan Kemahasiswaan

Kegiatan Kemahasiswaan atau Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) di Universitas Negeri Jakarta terbagi atas dua bagian, Organisasi Pemerintahan Mahasiswa (OPMAWA) yang membina mahasiswa belajar kenegaraan dalam lingkup universitas dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bertujuan mengembangkan Penalaran, Bakat Minat, dan Kesejahteraan guna menunjang tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Organisasi Pemerintahan Mahasiswa

Organisasi Pemerintahan Mahasiswa (OPMAWA) terdiri atas:
  • Majelis Tinggi Mahasiswa UNJ (MTM UNJ)
    merupakan lembaga legislatif mahasiswa tingkat universitas.
  • Badan Eksekutif Mahasiswa UNJ (BEM UNJ)
    merupakan lembaga eksekutif mahasiswa tingkat universitas.
  • Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF)
    merupakan lembaga eksekutif mahasiswa tingkat fakultas yang terdapat di setiap fakultas.
  • Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF)
    merupakan lembaga legislatif mahasiswa tingkat fakultas yang terdapat di setiap fakultas.
  • Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEMJ) / Himpunan Mahasiswa Jurusan (HIMA / HMJ)
    merupakan lembaga eksekutif mahasiswa tingkat jurusan yang terdapat di setiap jurusan. Penamaannya disesuaikan dengan kultur yang terdapat disetiap jurusan.
  • Lembaga Legislatif Mahasiswa Jurusan (LLMJ)
    merupakan lembaga legislatif mahasiswa tingkat jurusan yang terdapat di setiap jurusan yang memiliki lembaga eksekutif berbentuk BEMJ. Penamaannya disesuaikan dengan kultur yang terdapat disetiap jurusan.

Unit Kegiatan Mahasiswa

Berikut organisasi Unit Kegiatan Kemahasiswaan di Universitas Negeri Jakarta yang berlokasi di Gd. G,:
  • UKM (Unit Kesenian Mahasiswa)
    Memfasilitasi mahasiswa meningkatkan apresiasi seni dan mengembangkan bakat dan keseniannya. Unit Kesenian Mahasiswa mempunyai Sub Unit Sanggar Seni Rupa Rawamangun (S2R2), Seni Suara, Sastra Drama, dan Band.
  • LKM (Lembaga Kajian Mahasiswa)
    Wadah yang bertujuan mengembangkan wawasan ilmiah dan penalaran mahasiswa yang kritis dan dinamis.
  • UKO (Unit Olahraga Mahasiswa)
    Membina dan mengembangkan potensi mahasiswa UNJ dalam berorganisasi dan berolahraga. UKO telah banyak menyumbang prestasi yang membawa harum UNJ
  • Pramuka “Racana”
    organisasi di bidang kepramukaan tingkat univeristas dengan jenjang pandega
  • Pecinta Alam “ Eka Citra”
    organisasi kemahasiswaan yang berada di lingkungan UNJ yang bergerak dalam bidang kepecintaalaman
  • KSR-PMI(Korps sukarela - Palang Merah Indonesia)
    organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang kemanusiaan, sosial, dan kesehatan di bawah naungan PMI
  • KMPF (Kelompok Mahasiswa Pecinta Fotografi)
    wadah kemahasiswaan di UNJ yang bergerak di bidang fotografi.
  • KSPA-TKK (Kelompok Sosial Pecinta Anak Taman Kanak-kanak Keliling)
    organisasi di bidang sosial, yang menyelenggarakan TK keliling untuk anak-anak pra sejahtera, dan KSPA adalah tempat berkumpul mahasiswa yang memiliki kecintaan dengan dunia pendidikan anak.
  • Resimen Mahasiswa (Menwa)
    Mewujudkan semangat Patriotisme dan Nasionalisme dalam rangka Bela Negara Republik Indonesia
  • Badan Penyelenggara Radio Siaran (BPRS) Educational Radio (ERAFM-UNJ)
    Radio komunitas berbasis pendidikan di dalam kampus atau yang sering dikenal dengan radio kampus merupakan wadah informasi untuk civitas kampus dan lingkungan sekitar.
  • Komunitas Audio Visual Sigma-TV
    Komunitas Audio Visual dan Sinematografi merupakan wadah bagi mahasiswa UNJ mengembangkan bakat dalam dunia broadcast.
  • Didaktika
    Wadah kemahasiswaan mengembangkan bakat kritis dalam dunia jurnalistik dan membangun pemikiran kritis.
  • Koperasi Mahasiswa (Kopma)
    Membangun kreatifitas mahasiswa mengembangkan bakat bisnis, dan befungsi sebagai koperasi pada umumnya. Kegiatan yang sering dilakukan adalah Kedai Wisuda, Bazaar Buku, Seminar Kewirausahaan. Unit usaha yang ada antara lain: Foto Copy, Rental Komputer, Toko Buku, Cafetaria, LPK (Lembaga Pendidikan Komputer) dan Les Privat.
  • Keluarga mahasiswa dan alumni penerima beasiswa Supersemar (KMA PBS) UNJ
    Merupakan organisasi yang berdiri di UNJ yang bernaung di bawah Yayasan Supersemar yang bergerak menaungi penerima beasiswa supersemar di UNJ.
  • Kelompok Peneliti Muda (KPM)
    Merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta yang bergerak di bidang penelitian dan penalaran.
  • Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Universitas Negeri Jakarta,
    Merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa yang membidangi kerohanian Islam di lingkungan Universitas Negeri Jakarta.
  • Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK),
    Merupakan wadah kerohanian mahasiswa UNJ yang beragama kristen.
  • Kelompok Mahasiswa Hindu Budha (KMHB)
    merupakan wadah kerohanian bagi mahasiswa yang beragama Hindu dan Budha.

Fakultas Bahasa dan Seni "UNJ"

Fakultas Bahasa dan Seni
Pimpinan Fakultas
   
Dekan Banu Pratitis, M.A, Ph.D
Pembantu Dekan I Dra. Liliana Muliastuti, M.Pd
Pembantu Dekan II Dra. Ninuk Lustyantie, M.Pd
Pembantu Dekan III: Dra. Nursilah, MSi

Alamat: Telepon:
Gedung E
Jl. Rawamangun Muka
Jakarta 13220
Indonesia
++62 21 4895124

E-Mail:
dekanfbs@unj.ac.id



Profil Fakultas

Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) adalah unsur Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang menyelenggarakan kegiatan tri dharma perguruan tinggi dan menghasilkan tenaga kependidikan dan nonkependidikan di bidang Bahasa, Sastra, dan Seni. Fakultas ini mengelola 8 program studi untuk program S1 dan S0. Mulai tahun akademik 2001/2002 FBS membuka 2 program studi nonkependidikan, yaitu Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris.

VISI
Pada tahun 2010 FBS menjadi Fakultas yang unggul dengan menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia, memiliki kemampuan akademik dan atau profesional di bidang bahasa, sastra dan seni yang mampu bersaing di era global serta menjadi pusat kajian di bidang pendidikan bahasa, sastra dan seni.

MISI
Untuk mewujudkan visi di atas, FBS menetapkan visi sebagai berikut :
  1. Menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesional di bidang bahasa, sastra, dan seni yang menghasilkan lulusan berakhlak mulia, unggul, dan mampu bersaing serta menjadi penggerak perubahan di masyarakat.
  2. Menyelenggarakan kegiatan penelitian untuk menghasilkan inovasi di bidang bahasa, sastra dan seni.
  3. Menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk membantu pemecahan masalah yang terjadi di masyarakat dalam bidang bahasa, sastra, dan seni.
  4. Mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak di tingkat lokal, nasional, regional, maupun internasionaldibidang Tri DharmaPerguruan Tinggi dengan menciptakan budaya akademik yang kondusif dengan semangat kewirausahaan.
TUJUAN
Fakultas Bahasa dan Seni bertujuan menghasilkan:
  1. Lulusan yang menguasai subject matter dalam bidang bahasa, sastra, dan seni baik dalam bidang kependidikan maupun non kependidikan.
  2. Lulusan yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengembangkan dan menerapkan ilmu yang diperoleh sesuai dengan tuntutan kebutuhan pembangunan nasional.
  3. Lulusan yang memiliki kemampuan kewirausahaan dan kemandirian tinggi serta memiliki keterampilan hidup untuk bersaing dalam era pasar bebas.
  4. Lulusan yang menghasilkan karya akademik yang memiliki nilai kompetitif dan nilai manfaat bagi masyarakat.

"Universitas Negeri Jakarta"

Visi
Menjadi Universitas yang memiliki keunggulan kompetitif dalam membangun masyarakat Indonesia yang maju, demokratis dan sejahtera berdasarkan Pancasila di era globalisasi.

Misi
  1. Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia dan lingkungan.
  2. Menyiapkan tenaga akademik dan/atau profesional yang bermutu, bertanggung jawab dan mandiri di bidang pendidikan dan nonkependidikan guna menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
  3. Mengembangkan ilmu dan praksis kependidikan dalam rangka mempercepat pencapaian pembangunan pendidikan nasional.
  4. Mengembangkan berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat di bidang ilmu, teknologi, dan seni yang berdaya guna dan berhasil guna.
  5. Menciptakan budaya akademik yang kondusif bagi pemberdayaan semua potensi kemanusiaan yang optimal dan terintegrasi secara berkesinambungan.
  6. Memfungsikan dirinya selaku universitas yang mampu menerapkan prinsip-prinsip entrepreneurship dalam kinerjanya secara berkesinambungan.
Tentang UNJ
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia merasakan kurangnya tenaga kependidikan di semua jenjang dan jenis lembaga pendidikan. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah mendirikan berbagai kursus pendidikan guru. Sekitar tahun 1950-an, pada jenjang di atas pendidikan menengah didirikan B-I, B-II, dan PGSLP yang bertugas menyiapkan guru-guru untuk sekolah lanjutan. Usaha-usaha untuk meningkatkan mutu dan jumlah guru terus dilakukan melalui pendirian Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) oleh pemerintah melalui Keputusan Menteri P dan K No. 382/Kab. tahun 1954. PTPG ini didirikan di empat kota yakni Batusangkar, Manado, Bandung, dan Malang. Dengan demikian terdapat dua macam lembaga pendidikan yang menghasilkan tenaga guru, yaitu Kursus B-I/B-II/PGSLP dan PTPG. Kedua lembaga ini kemudian diintegrasikan menjadi satu lembaga pendidikan melalui berbagai tahap. Pada tahun 1957, PTPG diintegrasikan ke dalam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada universitas terdekat. Berdasarkan PP No. 51 tahun 1958 Fakultas Paedagogik diintegrasikan ke dalam FKIP.

Pada tahun 1963, oleh Kementerian Pendidikan Dasar didirikan Institut Pendidikan Guru (IPG) untuk menghasilkan guru sekolah menengah; sementara berdasarkan Keputusan Menteri P dan K No. 6 dan 7, tanggal 8 Pebruari 1961 Kursus B-I dan B-II diintegrasikan ke dalam FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi yang juga menghasilkan guru sekolah menengah. Dualisme ini dirasakan kurang efektif dan mengganggu manajemen pendidikan guru. Untuk mengatasi ini maka kursus B-I dan B-II di Jakarta diintegrasikan ke dalam FKIP Universitas Indonesia.

Melalui Keputusan Presiden RI No. 1 tahun 1963 tanggal 3 Januari 1963, ditetapkan integrasi sistem kelembagaan pendidikan guru salah satu butir pernyataan Kepres. tersebut adalah bahwa surat keputusan ini berlaku sejak 16 Mei 1964, yang kemudian dinyatakan sebagai hari lahirnya IKIP Jakarta. FKIP dan IPG diubah menjadi IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Proses pengintegrasian FKIP-Universitas Indonesia dan IPG Jakarta, melahirkan IKIP Jakarta. Dalam perkembangan selanjutnya IKIP Jakarta setelah berusia lebih kurang 36 tahun, sejak tanggal 4 Agustus 1999 berubah menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berdasarkan Keppres 093/1999 tanggal 4 Agustus 1999, dan peresmiannya dilaksanakan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 31 Agustus 1999 di Istana Negara.

Hari jadi Universitas Negeri Jakarta ditetapkan sama dengan hari jadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta yang merupakan cikal bakal Universitas Negeri Jakarta yaitu pada tanggal 16 Mei 1964.

1. Masa Universitas Indonesia
No
N a m a
Jabatan
Periode
a
Prof.R. Sugarda Poerbakawatja Dekan FKIP Universitas Indonesia
1961 - 1963
b
Prof. Dr. Slamet Imam Santoso Dekan FKIP Universitas Indonesia
1963 - 1964

2. Daftar Rektor Masa IKIP Jakarta
No
Nama
Jabatan
Periode
a
Brigjen A. Latif Hendraningrat Rektor IKIP Jakarta 1964 - 1965
b
Dra. Maftuchah Yusuf Ketua Presidium IKIP Jakarta 1966 - 1967
c
Dr. Deliar Noer Rektor IKIP Jakarta 1) 1967-1971
2) 1971-1975
d
Dr. Siswojo Hardjodipuro Pjs. Rektor IKIP Jakarta 1975
e
Prof. Dr. Winarno Surachmad, M.Sc.,M.Ed Rektor IKIP Jakarta 1975 -1980
f
Prof. Dr. R. Soedjiran Reksosoe-darmo, M.A Rektor IKIP Jakarta 1980 - 1984
g
Prof. Dr. Conny R. Semiawan Rektor IKIP Jakarta 1) 1984-1988
2) 1988-1992
h
Dr. A. Suhaenah Suparno Rektor IKIP Jakarta 1992 - 1996
i
Dr. Sutjipto Rektor IKIP Jakarta 1997 - 1999

3. Masa Universitas Negeri Jakarta
No
N a m a
Jabatan
Periode
j.
Prof. Dr. Sutjipto  Rektor Universitas Negeri Jakarta 1999 - 2001
k.
Prof. Dr. Sutjipto  Rektor Universitas Negeri Jakarta  2001 - 2005
l.
Dr. Bedjo Sujanto   Rektor Universitas Negeri Jakarta  2005 - 2009
m
Dr. Bedjo Sujanto   Rektor Universitas Negeri Jakarta  2009 - 2014   



Selasa, 20 Maret 2012

FEATURES


Menggugat Lupa Sang Penguasa

Pelanggaran HAM terus terjadi di negeri ini. Tak sedikit pula, kasus yang menjadikan umat Islam sebagai korban. Ada kasus Tanjung Priok, ada pula Talangsari. Keduanya, sama-sama gelapnya. Seolah mengidap amnesia, Sang Pemimpin negeri ini mulai ‘lupa’ dengan janjinya. Saatnya umat kembali menggugat!
HAMPIR TIGA TAHUH YANG LEWAT, 26 Maret 2008, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima Direktur Eksekutif Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Usman Hamid di Kantor Presiden, Jakarta. Usman tak sendirian kala itu. Ia bersama dengan beberapa anggota keluarga korban kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) lainnya. Mereka adalah para perwakilan keluarga korban Tragedi Semanggi I, kerusuhan Mei 1998, penculikan aktivis pada 1997, peristiwa Tanjung Priok, dan korban kasus Talangsari 1989. Tak ada maksud lain dari rombongan Usman, kecuali menyampaikan harapan para korban  agar kasus pelanggaran HAM, menemui titik terang. Presiden SBY yang mengenakan batik lengan panjang berwarna cokelat tua kala itu, seperti biasa, berjanji akan segera menuntaskan berbagai kasus pelanggaran HAM yang belum tuntas. “Proses hukum tersebut harus diupayakan seadil mungkin, agar orang-orang yang memang melakukan kejahatan mendapat hukuman sesuai dengan perbuatannya. Jangan sampai orang yang salah mendapat hukuman yang ringan, sebaliknya orang yang tidak bersalah mendapatkan hukuman,” begitu janji Presiden SBY, seperti ditirukan Usman, usai pertemuan itu. Sayangnya, hingga detik ini, penuntasan kasus pelanggaran HAM, seolah dilupakan oleh pemerintah. Buktinya, lihatlah peristiwa Talangsari Lampung yang terjadi 22 tahun silam, tepatnya 7 Februari 1989. Ada tiga nama jenderal yang disebut-sebut terlibat. Letnan Jenderal Purn. Hendropriyono, Jenderal Purn. Wismoyo Arismunandar serta Jenderal Purn. Try Sutrisno. Mereka pun tampak tak tersentuh hukum dan selalu mangkir dari panggilan Komnas HAM. Fakta lain mengatakan, kasus Talangsari 1989 pun tak ada perkembangan hingga berkasnya mengendap begitu saja selama tiga tahun di Kejaksaan Agung. Setali tiga uang, kasus lain pun demikian. Janji penguasa untuk menyelesaikan kasus itu, tampaknya mulai ‘dimakan’ lupa. Jangan heran, kalau janji-janji SBY, dianggap sebagai kebohongan.
Para tokoh agama juga sempat menuding sang presiden telah melakukan kebohongan publik pada Januari lalu. Ada sembilan kebohongan, salah satunya penuntasan kasus HAM yang masih menjadi pepesan kosong. “Kebohongan dalam arti berbeda ucapan dengan tindakan,” kata Ketua PP Muhammadiyah, hati-hati. Salah satu kasus pelanggaran HAM yang menyakiti perasaan umat Islam adalah peristiwa Talangsari, Lampung. Bermula dari keberadaan sebuah pengajian yang dipimpin Warsidi pada 1980-an. Aktivitas pengajian itu di antaranya mengkritisi pemerintah Orde Baru yang dinilai gagal menyejahterakan rakyat. Dianggap sebagai sebuah bentuk ancaman, pada 7 Februari 1989 silam, aparat militer menyerbu pengajian di Talangsari, Lampung. Akibat penyerangan itu sedikitnya 246 jiwa dilaporkan tewas. Lebih dari setengahnya, korban tewas didominasi oleh kaum wanita dan anak-anak.
Menggugat Lupa dengan Demonstrasi
Umat Islam, tampaknya mulai gerah dengan aksi politik pencitraan presiden SBY. Selalu berjanji, selalu diingkari. Meski begitu, Jaringan Solidaritas Korban dan Keluarga Korban dan KontraS misalnya, tetap lantang memperjuangkan penegakan HAM. Demo Kamisan –demontrasi dengan aksi diam setiap hari Kamis– menjadi sarana pelampiasan kekecewaan, harapan sekaligus gugatan yang dilakukan sejak 18 Januari 2007. Memang, tak semua demo Kamisan berjalan mulus. Pada aksi pertama, 18 Januari 2007, mereka dihadang polisi. Tapi mereka tak mundur, meski polisi meminta mereka bubar. Pada Kamisan 16 Agustus 2007, polisi juga meminta aksi dibatalkan karena ada gladi bersih peringatan tujuh belasan. Kamisan yang sangat menegangkan terjadi 17 April 2008. Sebelum aksi itu terjadi, polisi sempat memberitahukan kebijakan baru tentang larangan melakukan demonstrasi yang terlalu dekat dengan Istana Negara.
Menggugat Lupa dengan Buku
Selain secara berkelompok, ada pula gugatan secara personal. Tomy Irfani misalnya, yang cukup gerah melihat lemahnya penuntasan kasus HAM di Tanah Air. Ia berjuang dengan sebuah novel berjudul “Benteng Terakhir; Tragedi Cinta Harmoni”. Dalam novel setebal 532 halaman itu, mahasiswa jurusan Sosiologi Universitas Terbuka ini, menggugat pelanggaran HAM Talangsari, yang terjadi di tanah kelahirannya, Lampung. “Setiap berita apapun yang menyebut Lampung akan membuat berdetak hati saya. Pembantaian di lampung, cukup menyayat hati, bahwa tanah kelahiran saya, telah terkoyak,” kata Tomy lirih kepada Sabili. Tomy menunjukkan simpatinya kepada para korban dan para pejuang HAM, melalui karya tulis. “Baik korban Talangsari maupun korban-korban yang lain.” Harapannya, buku yang diterbitkan Gaung Media ini dapat memberi semangat dan harapan pada para korban, “Kau harus bisa bersabar, sekalipun hatimu tersakiti. Dan sebesar apa pun permasalahan, tentu ada jalan keluarnya,” tegasnya, mengutip salah satu bagian dari novelnya. Sebab, bagi penulis yang telah melahirkan tiga novel ini, tidaklah sulit bagi pemerintah untuk menyelesaikan persoalan HAM yang mengorbankan umat. “Sulit kalau sudah diimbuhi kepentingan politik,” katanya. “Kalau pemerintah punya kemauan pasti semua selesai dan tak akan ada peristiwa itu. ”Belakangan, justru muncul kasus berikutnya. Kasus Cikeusik, misalnya. Bahkan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai kekerasan yang terjadi saat  penyerangan kepada jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, sebagai kasus direkayasa. “Dimensinya cukup banyak, dan kami menduga kuat ada rekayasa,” kata  Komisioner Subkomisi Mediasi Komnas HAM Ridha Saleh di kantor Komnas HAM, Kamis (10/2) lalu. Untuk membongkar dugaan rekayasa itu, Komnas HAM langsung membentuk tim. Terakhir, tim melihat ada tiga kejanggalan. Pertama, Komnas mendapatkan informasi pihak kepolisian dan aparat keamanan sudah mengetahui akan ada penyerangan terhadap komunitas Ahmadiyah sebelum kejadian. “Sejak dua hari sebelumnya,” ujar Ridha. Kedua, Komnas mendapatkan informasi ada pesan pendek (SMS) yang masuk ke kepolisian mengenai rencana penyerangan. “Dari orang yang kemungkinan juga sudah diketahui (oleh polisi),” jelas Ridha. Kejanggalan ketiga, kepolisian dikabarkan sudah tahu jumlah massa yang akan menyerang, namun jumlah pasukan yang dikerahkan tidak seimbang dengan jumlah massa. “Pengerahan pasukan hanya tidak imbang. Ini ada apa?” tutur Ridha. Menyikapi salah satu kasus ini, Tomy sebagai salah satu anggota masyarakat, mengaku enggan menanggapinya terlalu jauh. Lebih baik, menurutnya, umat Islam mendorong kerja Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan tim pencari fakta yang kredibel untuk melakukan penyelidikan. “Arahkan saja semua hasil penyelidikan tim itu untuk menanggapi kegagalan pemerintah. Kita masih sayang pada pemimpin. Tapi jika mempertahankan pemimpin yang bermain-main dengan nasib dan nyawa anak bangsa, apakah rakyat dan bangsa ini rela ambil resiko seperti itu?” Dalam kondisi seperti ini, umat Islam khususnya, dan rakyat Indonesia umumnya, sedang dalam keadaan terzalimi. Negara dengan sengaja dan tidak sengaja telah menghilangkan kesempatan bagi rakyatnya untuk membangun kemandirian. “Ini sama artinya melanggar HAM,” katanya. Mengacu pada pesan moral Benteng Terakhir, harusnya “Kesadaran dan kedewasaan umat Islam dan rakyat Indonesia segera tumbuh untuk bersatu membentuk kekuatan besar guna menyelamatkan Indonesia kita.”

FEATURES

Mimpi dari Gunungan Sampah

“Emak ga mau anak-anak jadi pemulung kayak emak. Anak-anak harus sekolah biar jadi orang sukses. Kalo anak-anak sukses Emak mau berhenti ngorek di bulog. ”Sepenggal kalimat itulah yang terucap dari bibir Mak Jupri (45) di sela-sela waktu luangnya sebelum berangkat bekerja. Jangan bayangkan tempat dinasnya itu di dalam ruangan yang berpenyejuk seperti kantor kebanyakan. Jangan pula membayangkan pekerjaan Mak yang berkutat di depan komputer dengan urusan administrasi. Bukan itu. Wanita yang lebih dikenal dengan nama anak sulungnya, Jupri, itu bekerja di lapangan terbuka. Tak kenal cuaca. Terik matahari yang menyengat atau guyuran air yang tumpah dari langit, kenyang sudah ia rasakan. Lahan pekerjaan yang digeluti Mak, benar-benar ‘lapangan’ sebenarnya. Untuk menjadi pekerja seperti Mak, tak membutuhkan ijazah kursus mengetik komputer sepuluh jari, siapa pun bisa melakoninya. Asal telaten, dan punya kemauan. Tugasnya pun juga sederhana. Ngorek dan nyobek, itu istilahnya. Ngorek untuk pekerjaan mengais rongsokan di gunungan sampah. Hanya memilah barang yang masih bisa dijual, seperti plastik kresek, besi, kardus, atau botol. Sementara nyobek adalah pekerjaan memotong plastik kresek dalam potongan kecil-kecil untuk dijual kembali ke penampungan. Ya, itulah pekerjaan Mak Jupri sebagai pemulung di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Mak Jupri adalah satu diantara kurang lebih 6000 pemulung yang bekerja di sekitar 300 lapak di lokasi itu. Bukan keinginan Mak Jupri dan keluarga untuk menjadi pemulung di Bantar Gebang. Merasa tak berkecukupan di kampung halamannya, Banten, Jawa Barat, mereka hijrah dengan harapan kehidupan mereka semakin membaik dari sebelumnya. Sekitar tahun 1997, Mak Jupri bersama suami pun meninggalkan kampung halamannya. Mereka membawa serta anak-anaknya: Jupri, Supriyatno, Jono Pranoto, Yunita, Nurhaeni, dan yang terakhir Akbar, lahir setelah pindah, kata Mak. Namun baru setahun pindah, takdir berkata lain. Sang suami tewas tertabrak mobil, ketika menghadiri pesta hajatan seorang kerabatnya di kampung. Harapan untuk hidup lebih layak sirna seketika. Dan suratan takdir akhirnya menuntun Mak Jupri untuk bertahan menghidupi dirinya dan keenam anaknya dengan menjalankan profesi sebagai pemulung. Apa boleh buat, “saya melanjutkan memulung untuk menghidupi kebutuhan keluarga,” kata Mak yang tak ingin anaknya kelak jadi pemulung seperti dirinya. Sebelum itu, Mak Jupri tidak pernah diijinkan suaminya itu ikut bekerja. “Hanya bapak saja yang kerja. Saya hanya momong anak,” kata Mak Jupri. Maka wajar jika beliau mengalami shock dan kehilangan orientasi hidup selama setahun sejak kematian suaminya. Namun, masa berkabung yang menyebabkan hidup jadi tidak tentu itu perlahan hilang. Semangat Mak Jupri bangkit, demi menghidupi keenam anaknya yang masih kecil.
Pagi itu, GIVING bertandang ke bedeng, tempat tinggal Mak Jupri dan anak-anaknya yang tidak permanen di kawasan Bantargebang. Waktu menunjuk pada angka Sembilan. Ia tengah bersiap untuk memulung. Sebelumnya, ia sudah membereskan pekerjaan utamanya; mencuci baju dan memasak ala kadarnya. “Kalau sudah selesai semua, baru ngorek,” kata Mak yang biasa pulang kerja menjelang Maghrib ini. Mak Jupri sudah bersiap. Daster kumal motif cokelat, disalin dengan blues hijau terang untuk melindungi kulit tubuhnya yang tak lagi muda. Baju itu yang biasa Mak kenakan sehari-hari. Tak banyak pula bajunya, hanya beberapa. Jumlahnya bisa dihitung jari. Tak lupa, topi caping lebar dikenakannya untuk menangkis dari sengatan matahari di bulog (gunungan sampah). Ditambah keranjang berdiameter setengah meter di punggung dan besi penjepit di tangan. Lengkap sudah ‘seragam’ dinas Mak untuk bekerja menuju bulog yang berjarak 20 menit dengan berjalan kaki dari rumahnya. Bersandal jepit, ia menyelusuri jalan Bantargebang yang panas dan bau sampah yang menguap. Sesampainya di gunungan sampah, Mak Jupri langsung larut dalam gunungan sampah dan mulai bekerja dengan cekatan. Mesti begitu. Sebab, bila tidak, barang-barang yang bernilai jual tinggi, bisa-bisa diserobot orang. “Kudu lincah. Kalo nggak, mah, nggak dapet barang,” katanya menjelaskan. Dari hasil pekerjaannya mengaduk-aduk sampah, Mak bisa menghasilkan Rp. 100 ribu sepekan. Biasanya, hasil sampah harian itu disetor ke pengumpul. Dan Mak Jupri baru menerima upahnya seminggu sekali. Dengan aliran penghasilan semacam itu, mau tidak mau, Mak Jupri menerapkan strategi “gali lubang tutup lubang” untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. “Biasanya ngutang dulu di warung. Baru dibayar kalau sudah dapat uang,” kata Mak sembari tersenyum. Kadang, ia menambahnya dengan pekerjaan nyobek plastik sambil menunggu upah ngorek. Tiap satu kwintal hasil sobekan kantung kresek, Mak Jupri mendapat upah Rp 20 ribu. Jumlah inilah yang ditambah hasil ngorek yang digunakan untuk menyambung hidup dan biaya sekolah dua anaknya, Nurhaeni dan Akbar yang masing-masing duduk di bangku kelas 3 dan 1 SMP. Belakangan, kian santer isu yang menyebutkan bahwa pihak pengelola TPST Bantargebang akan membangun industri industri pengolahan dan pemilahan sampah menjadi bijih plastik. Jika teralisasi, isu tersebut tentu saja akan kian mengancam mata pencaharian dan penghasilan Mak Jupri. Tapi Mak Jupri memilih istiqomah. Terus bekerja memeras keringat sebagaimana biasa. Lelah dan penat kadang terobati. Karena, meski hidup terasa sulit, ia masih menyimpan kebanggan melihat prestasi putri kelimanya, Nurhaeni yang langganan menjadi bintang kelas di sekolahnya. Ketika ditanya kepada Mak Jupri, apa yang membuat Eni juara kelas, ia hanya tersenyum bingung. ”Sekolah itu penting, jangan kayak emak, bodoh begini,” kata Mak Jupri yang tidak pernah mengenyam bangku sekolahan. Di hati Mak Jupri, kini terselip sebuah harapan bagi anak-anaknya. Ia ingin melihat keenam anaknya menjadi orang sukses. Sehingga ia bisa berhenti mulung dan nyobek lagi. “Kalo anak-anak sudah gede dan sukses, sih, maunya emak istirahat mulung,” kata Mak percaya, satu hari itu akan tiba. Kelak. Entah kapan. Yang jelas, Mak hanya ingin membuktikan, meski single parent dan tak pernah sekolah, anak-anaknya bisa sukses tak seperti dirinya; ngorek dan nyobek sampah untuk menyambung hidup. ”Mak ingin ngebuktiin anak-anak bisa sukses,” pungkasnya dengan mata yang mulai basah.



FEATURES


Kiamat Kecil Transjakarta

Katanya, kiamat akan terjadi pada 2012. Itu yang dilihat dari film dan ramalan. Ternyata tidak, kiamat itu akan datang pada 2014. Sutiyoso yang meramal. Bahkan, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), meyakininya lebih cepat, 2011. Tapi ini soal kiamat yang akan menimpa sistem transportasi Ibukota, termasuk Bus Transjakarta. Seorang lelaki turun dari Bus Transjakarta di Halte Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Wajahnya merah padam, berkeringat. Padahal, Senin itu masih pagi, pukul tujuh yang dingin sebab hujan tak jua reda sejak semalam. Tangan kirinya menenteng tas kulit berwarna coklat, sementara tangan kanannya sibuk merapikan kemeja putihnya yang lecek dan mengelap keningnya dengan sapu tangan biru dongker. Sutrisno, nama lelaki paruh baya itu. Pagi itu, ia merasa sial. Penderitaannya serasa lengkap sudah lantaran BMW hitamnya masuk bengkel. Ditambah, hujan lebat mengguyur jalanan hingga banjir selutut, jalanan macet, berdesakan pula di dalam bus, bikin dia tak nyaman. ”Huuh, kapok deh naik Transjakarta,” lelaki ini mengeluh sambil pergi berlalu menjauhi halte. Kalau sudah begini, angkutan umum seperti Bus Transjakarta menjadi pilihan terakhir ayah dua putri ini. Saban pagi, ia mesti melintasi rute Jalan Dewi Sartika-Otista-Salemba untuk menuju kantornya di Indosat. Meluncur pukul setengah enam pagi dari kediamannya di bilangan Kampung Tengah, Jakarta Timur. Biasanya, Sutrisno ngantor dengan sedan pabrikan Jerman itu. Ia mengaku lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi ketimbang berdesakan naik angkutan publik. Menurutnya, “Transjakarta itu lama. Tidak nyaman dan terlalu padat pada jam sibuk,” ujarnya. Masih dengan nada jengkel. Andai saja transportasi publik macam Transjakarta kondisinya layak, Sutrisno  mengaku mau beralih dari kendaraan pribadinya. “Asalkan tepat waktu, ketersediaan armada mencukupi, kenyamanan dan keamanan bisa dijaga,” kata Direktur IT ini sambil menyorongkan tiga jarinya. Mungkin tak hanya Sutrisno, mungkin juga sebagian besar warga Jakarta. Namun sayang, kenyataannya tak seindah harapan kebanyakan orang. Untuk saat ini, ia menilai Transjakarta terlihat semakin buruk saja. “Di halte, AC-nya sudah nggak nyala, pintu sudah nggak bisa tertutup, jalannya bolong-bolong,” nilai merah darinya. Dengan kondisi seperti ini, ia menilai kalau pemerintah daerah DKI Jakarta tak serius dalam menangani masalah transportasi. “Kayak hidup enggan mati tak mau,” ia berpepatah.
Bukan Jakarta namanya, kalau tak macet saban hari. Tidak hanya di ruas jalan protokol seperti Jalan M.H Thamrin atau Jalan Sudirman, kini kemacetan mulai merata hampir di semua sudut ibukota Indonesia ini. Apalagi saat musim penghujan tiba. Jadilah Jakarta sebagai kota yang sistem transportasinya terasa mengerikan. Dulu, saat Sutiyoso masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarat, ia sempat membuat ramalan. Bahwa kemacetan akan menyergap warga Jakarta saat keluar rumah pada 2014 nanti. Asumsinya sederhana. Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta, tak sebanding dengan jumlah ruas jalan yang tak jua bertambah. Meski sudah ada Bus Transjakarta yang punya jalur spesial, tetap saja busway kerap dicaplok kendaraan lain. Tetap saja Transjakarta kena macet. Namun, ’kiamat’ mobilitas itu tampaknya akan datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Ririn Sefsani, seorang aktifis dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) yang menyatakan demikian. ”Mungkin saja terjadi pada 2011, saya punya datanya dan sudah pernah saya sampaikan,” ujar Ririn.
Dari data yang diberikan Ririn kepada saya menunjukkan, luas jalan sebesar 40 juta meter persegi, tak bertambah secara signifikan sejak 2007 hingga kini. Sementara jumlah kendaraan bermotor bertambah rata-rata 500 ribu per tahun dan pada 2011. Jumlah kendaraan diprediksi lebih dari 5,9 juta unit dengan luas kendaraan di jalan 40,1 juta meter persegi. Itu artinya, luas kendaraan sama dengan luas jalan yang tersedia. Sehingga, kemacetan total pun bisa diprediksi menyergap lebih cepat dari bayangan sebelumnya. Menurutnya, kemacetan semakin ruwet tak terkendali juga disebabkan buruknya transportasi publik yang tak mengalami perbaikan secara signifikan. ”Transportasi publik yang tak mengalami perbaikan, baik dari sisi penyediaan maupun fasilitasnya,” kata Ririn iba. Sebetulnya, Ririn mengakui, untuk mengurangi kemacetan di ibukota, transportasi publik bisa menjadi jawaban. Seperti bus Transjakarta yang sudah beroperasi sejak 2004 lalu, atau kereta listrik (KRL). Sayangnya, Ririn masih menilai sama dengan Sutrisno; pemerintah tak serius dalam mengatasi kemacetan. Khusus Jakarta, Ririn menilai bahwa pemerintah daerah masih sangat bergantung pada pendapatan pajak kendaraan bermotor. Alasan lainnya, juga disebabkan industri mobil yang memiliki kepentingan terhadap penjualannya sehingga pemerintah mengabaikan pelayanan transportasi publik yang memadai. Bagi Ririn, komitmen saja tidak cukup karena pemerintah berorientasi pada pendapatan, sementara ”industri mobil itu, bagaimana menjual mobil sebanyak mungkin,” kata Ririn sambil terkekeh. Memang, Ririn mengakui pendapatan pemerintah dari sektor pajak kendaraan juga penting dalam kontribusi pembangunan. Tapi, kalau itu menjadi prioritas pemerintah lalu mengabaikan pelayanan transportasi yang memadai bagi masyarakat, jadilah persoalan. Ririn berharap, Transjakarta bisa digarap dengan manajemen yang baik, termasuk pola kepemilikian armada bus dengan mengikutsertakan para pengusaha angkutan umum. ”Pemiliknya tidak hanya pemerintah tapi juga swasta dengan membangun aspek transparansi dan akuntabilitas yang baik.”
Cara kedua dengan melibatkan masyarakat dalam proses pengadaan dan model transportasi. Sehingga masyarakat nyaman menggunakannya dan rela beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Keterlibatan masyarakat yang dimaksud Ririn, bahwa masyarakat dapat menggunakan Transjakarta senyaman mungkin, akses halte mudah, fasilitas yang baik, juga keramahan para penyelenggaranya. ”Dan, ketepatan waktu serta ketersediaan di titik-titik, dimana masyarakat beraktivitas. Itu juga juga menjadi hal penting,” kata Ririn mengingatkan. Di samping itu, transportasi publik seperti Transjakarta tidak akan berhasil manakala pemerintah belum mampu mengendalikan penggunaan kendaraan pribadi. Atas kesemrawutan transportasi ini, Ririn memberi rapot merah bagi pemerintah. ”Ini persoalan puluhan tahun. Nilainya 2,5 deh,” Ujar Ririn. Terang saja, kalau persoalan ini tetap tak terselesaikan, masyarakat, khususnya di DKI Jakarta, akan merasakan ’kiamat kecil’ sistem transportasi di ibukota. Termasuk Transjakarta, di mana ruas busway selalu dicaplok pengendara lain. Itu artinya, sama dengan rumus, jumlah kendaraan bermotor, ditambah dengan jumlah ruas jalan, sama dengan macet total. Kita tunggu saja.


Sabtu, 10 Maret 2012

CERPEN PERTAMA


“Kotak Makan Siang Untuk Dia”

Pagi ini aku terbangun. Aku bangunkan diri dengan niat yang telah ku buat, meskipun ragaku belum sepenuhnya terbangun dari alam mimpiku. Ku kuatkan mata ini agar dapat melihat jam yang terpasang di dinding kamarku, “Oh Tuhan, sempatkah aku untuk membuatkan makan siang untuknya?”. Aku segera bangkit dari tempat tidurku, ku langkahkan kaki ini ke sebuah ruang yang setiap hari ku temui ibu membuat sarapan pagi untuk keluarganya, tapi kali ini berbeda dengan sebelumnya! Aku lebih awal masuk ke ruang itu dibanding ibu. Perlahan ku buka lemari es, ku pandangi sayur mayur yang mudah ku masak, ku lihat kentang, dan ku iris perlahan. Ku buka catatan kecil dan ku ikuti cara-cara memasaknya, lalu aku terdiam, kupertanyakan tentang 1 hal, untuk siapa aku kerjakan ini? Ku temukan jawaban lewat hati yang memberi degupan.  'Untuk Dia' ! lalu sebuah kasih membiarkan aku melakukan hal yang tak pernah jadi kegemaranku. Ku masak dengan senang, ku buat dengan kasih, ku masukan masakan itu kesebuah kotak. Ku masukan dan ku titipkan perasaan kepadanya, lalu berharap waktu cepat menuju padanya!
Syukurlah akhirnya selesai juga makan siang untuknya, lalu aku bergegas menuju ruang keluarga bermaksud untuk beristirahat sebentar dan tak lupa ku bawa kotak makan yang telah kubuat tadi ke ruangan itu. Ku taruh kotak makan itu di meja dan ku jatuhkan tubuh ini ke sofa yang begitu menggodaku untuk kembali ke alam mimpiku, “Oh Tuhan, semoga dia suka dengan makanan yang ku buat ini dan tak disangka aku senyum-senyum sendiri membayangkan hal ini”. Tiba-tiba sosok yang sangat ku kenal itu sedari tadi memperhatikan tingkah anehku di pagi ini, yah ibu datang dan mengejutkan aku yang sedari tadi tak hentinya tersenyum sendiri, “Hayo kamu kenapa senyum-senyum sendirian, Nak?” ujar ibu. “Oh Tuhan, aku harus jawab apa?” kataku dalam hati yang sedari tadi bingung memikirkan jawaban apa yang akan ku katakan kepada ibuku, ibu mulai penasaran dengan jawabanku. Ibu pun kembali membuka percakapan “Nak, ayo ceritakan kepada ibu? Tumben sekali kamu sudah bangun, sudah masak juga lagi? yang membuat ibu penasaran ada apa kamu senyum-senyum sendirian?” begitulah pertanyaan yang ibu berikan kepadaku. Aku pun segera menjawab pertanyaan yang sedari tadi membuat ibu menjadi penasaran akan tingkah laku aneh yang ku lakukan pagi ini, “hem iyah bu, jadi aku bangun pagi ingin menyiapkan makan siang untuk ku bawa ke sekolah nanti dan soal mengapa aku senyum-senyum sendiri karena aku senang sekali bisa menyiapkan bekal makan siangku ini tanpa merepotkan ibu”, begitulah jawaban yang ku berikan kepada ibu, menjelaskan sekenanya saja hahaha setidaknya aku sudah memberikan jawaban kepada ibu. Aku tertawa dalam hati sambil berkata “Semoga saja ibu tidak bertanya lagi tentang hal ini, sungguh aku malu sekali”. Aku kira ibu akan mengakhiri percakapan yang membuat wajahku merah merona bak kepiting rebus, ternyata ibu malah tetap membuka suara dan meledekku “Aah kamu tidah usah bohong sayang, tidak biasanya kamu bangun sepagi ini. Ayo jujur, kamu sedang jatuh cinta yah ? makanya merelakan rasa kantukmu untuk membuatkan makan siang untuk kekasihmu”. Ibu berkata seperti itu kepadaku sambil mengelus-elus rambutku kemudian mengecup keningku dan mengembangkan senyuman yang sangat indah untukku, “Oh Tuhan mengapa ibu tahu apa yang aku rasakan? Apa ini yang dinamakan naluri seorang ibu” desahku dalam hati. Aku kembali menjawab pertanyaan ibuku “Aah ibu bisa saja deh, aku kan jadi malu”. Begitulah jawaban yang tak sengaja terlontar dari mulutku, oops ya ampun kenapa aku bisa keceplosan begini? Semoga ibu tidak sadar dengan jawabanku tadi “desahku dalam hati sambil tersenyum kembali membayangkan percakapan pagi ini bersama ibunya”. Setelah mengakhiri percakapan dengan ibu, aku bergegas menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. 
Di sekolah tak sabar menunggu jeritan bel, tak ada hentinya mata ini memandangi arloji yang berada di pergelangan tangan kananku. “Oh Tuhan, waktu berjalan sangat lamban sekali, aku mohon bunyikan bel itu sekarang juga”. “kataku dalam hati”. Tepatlah inginku, berteriaklah bel mengantarkan perut-perut lapar pada tempat pengisian. Ku duduk manis di kelas sambil memandangi ke arah pintu kelasku, berharap seseorang yang ku harapkan sejak tadi pagi datang menemui pesan dikotak makan ini. Hati ini mulai resah memikirkannya, aku mencoba menenangkan diri sejenak, membangunkan raga ini dan beranjak dari kursiku untuk menunggunya di depan pintu kelasku. Mata ini terus menyapu setiap lorong demi lorong kelas, tapi orang yang ku cari tak dapat ku temukan. 15 menit sudah berlalu, wajah yang ku mau masih tak tampak juga. Ku tunggu dia lagi, ku siapkan sebuah kotak makan yang berisikan ketulusan. 30 menit pun sudah berlalu, dia tetap tak menemui pesan dikotak makan yang telah ku buat dengan rasa kasih yang begitu tulus untuknya.
Semangat ini pun luruh perlahan. Tiap menitnya buat senangku jadi gundah dan tak mampu menelan ludah. Jerit bel kembali terdengar, berisyarat perut-perut kenyang harus kembali dengan kewajiban. Dia tak datang. Pesan dikotak ini semakin tak dapat terbaca, dia tak datang. Dia tak ingin menerima isyarat isi dari sebuah kotak. Entah bagaimana harus aku gambarkan tentang hati ini, yang ku tahu mata tak mampu menahan kebodohan. Mata ini mengalirkan butiran air tanpa noda, namun beningnya tak menggambarkan bagaimana hati terluka. Dia tak datang. Dia tak memilih datang menemuiku! Dia mengacuhkan aku. Dan ku buang kotak bersama isyaratnya, karena dia tak menginginkannya dan dia tak menginginkan sang pemiliknya.